6 Nov 2009

Sejarah Cethe

Wedang Kopi merupakan sejenis minuman yang biasanya dihidangkan dalam keadaan panas dan dipersiapkan bahannya dari biji tanaman kopi yang dipanggang atau disangrai, kemudian ditumbuk atau digiling untuk dihaluskan. Saat ini kopi merupakan komoditas nomor dua yang paling banyak diperdagangkan setelah minyak bumi. Total 6,7 juta ton kopi diproduksi dalam kurun waktu 1998-2000 saja. Diperkirakan pada tahun 2010, produksi kopi dunia akan mencapai 7 juta ton per tahun ( sumber dari Wikipedia dan FAO ). Kopi merupakan sumber utama kafein. Untuk lebih jelas tentang sejarah Kopi bisa dibaca selengkapnya dari beberapa alamat dibawah ini :

- Wikipedia ( tentang Kopi )
- Wikipedia ( tentang Sejarah Kopi )
- Kampoeng Kopi ( tentang Sejarah Kopi di Indonesia )
- Tapanulicoffe ( tentang Istilah Kopi )
- Berontoseno Coffe ( tentang Sejarah Kopi Indonesia )
- Kopi Kapal Api ( Sejarah Penemuan Kopi )
- Wikipedia ( tentang Kafeina )
- FAO ( tentang Kopi )


Sedangkan Cethe dan Kopi Cethe sudah pernah saya jelaskan pada postingan yang pertama kali blog ini dibuat. Selanjutnya kita akan membahas tentang sejarah asal-usulnya cethe. Sebelum membahas lebih lanjut tentang sejarah asal-usul kata cethe, ada baiknya kalau kita membuat beberapa pertanyaan :

1. Pada tahun berapa kata CETHE itu mulai diucapkan oleh seseorang ?
2. Di desa atau daerah mana kata-kata tersebut pertama kali diucapkan ?
3. Siapa yang pertama kali mengucapkan kata-kata tersebut ?
4. Warung Kopinya siapa yang pertama kali ada kegiatan NYETHE ?
5. Siapa yang pertama kali membuat artikel atau posting tentang CETHE ?
6. Apakah pernah diadakan Lomba CETHE ?

Apabila mau menjawab quisener diatas, perlu adanya referensi dan sumber informasi yang jelas, dari siapa ( seseorang ) yang tahu tentang CETHE sebelum para pembuat artikel membahas dan mengulas tentang kata-kata tersebut. Kalau kita membuka situs dengan keyword CETHE, maka akan muncul bebarapa web atau blog yang memuat posting tentang cethe, baik itu arti katanya, sejarahnya, perkembangannya, dan sebagainya . Akan tetapi sejauh mana kita bisa menjawab semua pertanyaan tersebut diatas. Disinilah pentingnya referensi yang akurat tentang sejarah asal-usul dan perkembangan istilah CETHE tersebut dan paling tidak mendekati kebenaran. Bisa dimungkinkan bahwa hanya berasal dari mulut ke mulut dimanapun tempatnya, kalau di dunia maya dimungkinkan berasal dari suatu web / blog ke web / blog lain. Akan tetapi hal itu memang merupakan karya dan upaya dari para webmaster dan juga teman-teman blogger yang bertujuan melestarikan budaya masyarakat Tulungagung, sehingga terkenal sebagai ciri khas masyarakat Tulungagung.

Sementara untuk posting saya tentang hal tersebut juga belum dapat referensi yang akurat dari seseorang yang benar-benar tahu dan mengerti tentang hal tersebut, namun saya hanya mengingat-ingat waktu saya masih duduk di bangku SMP sekitar tahun 1982 sudah mendengar istilah atau kata-kata CETHE yang diucapkan oleh teman-teman, kerabat, tetangga dan saudara. Berarti dapat diperkirakan bahwa munculnya kata CETHE kurang lebih pada tahun 1982 atau sebelumnya. Namun waktu itu saya juga belum pernah menghisap rokok, karena masih sekolah, sehingga belum tahu betul warung-warung kopi yang menyediakan cethe tersebut. Hanya saja cerita dari mulut ke mulut katanya waktu itu warung-warung kopi yang menyediakan cethe tersebut di sekitar Wilayah Kecamatan Kauman seperti : Desa Bolorejo, Desa Kalangbret dan berkembang di desa-desa sekitarnya. Referensi tentang siapa yang pertama kali mengucapkan kata CETHE tersebut, saya juga belum mendapatkan informasi.

Selanjutnya tentang Warung Kopi yang pertama kali ada kegiatan NYETHE, itupun saya sendiri juga belum ada referensi yang akurat, akan tetapi pada Tahun 1982 tersebut diatas Warung Kopi yang terkenal pada waktu itu yaitu : Warung Kopi Pak Sumani ( Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman ), Warung Kopi Pak Sairin ( Desa Kalangbret, Kecamatan Kauman ), sedangkan yang lain juga masih belum ingat. Sedangkan untuk Warung Kopi Cethe dan perkembangannya saat ini, akan kita bahas khusus pada posting artikel berikutnya.

Selanjutnya, kita ulas tentang Sejarah Cethe dibawah ini yang telah saya kutip referensi tersebut dari beberapa web / blog yang mengulas tentang Sejarah Cethe. Pada suatu hari ketika para petani selesai mengerjakan sawahnya, mau pulang ke rumah sampai di jalan mereka mempunyai kebiasaan mampir ke warung untuk ngopi dan bertemu dengan sesama teman petani lainnya untuk sekedar istirahat, ngobrol dan mendiskusikan tentang hal-hal seputar pertanian mereka. Sambil ngopi, merokok dan ngobrol, sesekali rokok yang dihisap tersebut diolesi dengan endapan kopi yang ada di cawan. Endapan kopinyapun tidak sehalus endapan kopi yang ada sekarang ini yang memang betul-betul dibuat nyethe, waktu dulu endapan kopinya masih kasar karena proses pembuatan kopi bubuk tersebut tidak digiling tetapi ditumbuk. Endapan kopi yang dioles-oleskan ke rokok setelah dihisap dan terbakar menimbulkan sensasi tersendiri dengan rasa dan aroma yang benar-benar khas dan nikmat. Kopi Bubuk yang kasar ini orang-orang biasa menyebut “ Kopi Klethik “.

Setelah berkembang sampai sekarang dan menjamurnya warung-warung kopi yang menyediakan cethe di Kabupaten Tulungagung, maka proses pengolahan kopi bubuk tersebut lebih halus dengan bahan-bahan dasar pilihan, karena selain bertujuan adanya sensasi rasa dan aroma, dibuat untuk mengekspresikan karya seni dengan sarana cethe yaitu mengoleskan, melukis ke batang rokok dengan jenis lukisan yang beraneka ragam, yang mana pada postingan saya yang ke-dua telah dibahas yaitu lukis cethe motif, batik, abstrak, huruf, dan sebagainya dengan hasil yang sangat unik. Tetapi ada juga orang-orang yang biasa mengatakan bahwa melukis ke rokok dengan sarana cethe disebut “ MBATIK “. Dengan adanya perkembangan kegiatan nyethe ini, muncul artikel-artikel tentang CETHE dari berbagai media ( media cetak, media elektronik, internet, dan sebagainya ).

Pada Tahun 2006 dalam rangka Peringatan Hari Jadi Ke-801 Kabupaten Tulungagung pernah menyelenggarakan kegiatan “ LOMBA CETHE “ dengan jumlah keseluruhan peserta kurang lebih 2.000 (  dua ribu ) orang terdiri dari perwakilan yang dikirim oleh masing-masing Kecamatan dari 19 Kecamatan di Kabupaten Tulungagung, mulai jam 19.00 WIB. sampai dengan selesai yang bertempat di sepanjang Jl. A. Yani Timur Tulungagung ( Perempatan T.T. ke timur sampai traffic light pertigaan depan Kantor Bupati Tulungagung / Pemda ). Pada waktu itu kegiatan “ LOMBA CETHE “ mendapat penghargaan dari Rekor MURI ( Museum Rekor Dunia-Indonesia ) sebagai “ Peserta Lomba Cethe Terbanyak “ yang diserahkan oleh Perwakilan dari MURI kepada Bupati Tulungagung ( Ir. Heru Tjahjono, MM. ). Sedangkan yang dilombakan ada beberapa kategori, yaitu :
1. Kategori Lukis
2. Kategori Rasa
3. Kategori Aroma
Sedangkan sponsor utama dari kegiatan tersebut yaitu P.T. Gudang Garam Tbk. Kediri - Indonesia.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blog Site Info

Counter Powered by  RedCounter
Free Counter | Free Web/Blog Counter + Free Backlink directory
Add link
Submit Your Site To The Web's Top 50 Search Engines for Free!
Powered by  MyPagerank.Net
Food & Drink Top Blogs
Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net

KOPI CETHE Tulungagung Copyright © 2009 Community is Designed by Bie